
KBB Selatan Galang Gerakan Kelola Sampah dari Sumber Demi Kesejahteraan Warga
Bandung Barat, 4 November 2025 — Upaya mengatasi permasalahan sampah di wilayah selatan Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini memasuki babak baru. Melalui kegiatan Sosialisasi Pengolahan Sampah untuk Pengurangan dari Sumber yang digelar di daerah pemilihan (Dapil) 5—meliputi Kecamatan Cipongkor, Sindangkerta, Gununghalu, dan Rongga—pemerintah daerah bersama pegiat lingkungan sepakat membangun kesadaran baru bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya milik pemerintah.
Acara yang dihadiri oleh perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) KBB, unsur kecamatan, dan tokoh masyarakat ini bertujuan melahirkan kader-kader lingkungan baru serta mendorong pembentukan bank sampah di setiap desa.
Menurut Irfan Arfianto, SE., MM, panitia penyelenggara kegiatan, inisiatif ini merupakan langkah nyata untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis sumber.
Kami ingin mengubah pola pikir warga bahwa sampah bukan sekadar masalah, tetapi peluang. Para kader lingkungan diharapkan bisa menjadi motor penggerak yang menularkan praktik baik pengelolaan sampah di lingkungannya masing-masing,” ujar Irfan.
Masalah sampah di wilayah selatan KBB telah menimbulkan efek domino terhadap kesehatan, lingkungan, bahkan kesejahteraan sosial. Sekretaris Camat Cipongkor, Entis Sutisna, S.KM., M.M, menyebutkan bahwa persoalan sampah berkontribusi terhadap meningkatnya kerusakan lingkungan, banjir, dan penyakit berbasis lingkungan.
Cipongkor saat ini menjadi wilayah dengan tingkat kemiskinan ekstrem tertinggi kedua di Kabupaten Bandung Barat. Salah satu penyebabnya adalah kondisi lingkungan yang tidak sehat akibat pengelolaan sampah yang belum optimal,” ujarnya.
Entis menegaskan bahwa dengan keterbatasan armada pengangkut dan kapasitas tempat pembuangan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, partisipasi warga sebagai agen perubahan menjadi kunci utama dalam mengurangi volume sampah dari sumbernya.
Dalam kesempatan tersebut, Nurul Ingsan, selaku narasumber utama, memperkenalkan konsep dasar 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang menjadi pilar utama pengelolaan sampah berkelanjutan. Nurul menekankan bahwa proses pemilahan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga sebagai langkah awal menuju masyarakat yang sadar lingkungan.
Ketika setiap rumah mulai memilah, maka 50 persen masalah sampah sudah teratasi. Dari situlah nilai ekonomi baru bisa lahir,” jelasnya.

Lebih dari sekadar tempat penampungan, bank sampah kini didorong menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui sistem tabungan sampah, warga dapat menukar hasil pilahan menjadi nilai ekonomi yang nyata. Nurul menambahkan, keberadaan bank sampah juga menjadi sarana inovasi lokal dan wujud penerapan ekonomi sirkular sebagaimana diatur dalam PP No. 14 Tahun 2021.
Bank sampah bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga pemberdayaan. Dari sini, masyarakat bisa belajar mengelola sampah menjadi sumber pendapatan dan kemandirian,” ujarnya.
Hingga saat ini, jumlah unit bank sampah di Kabupaten Bandung Barat telah mencapai sekitar 70 unit dan terus berkembang, termasuk rencana pembentukan di wilayah-wilayah selatan yang selama ini belum terlayani secara optimal.
Berdasarkan data DLH KBB, hanya sekitar 20 persen dari total sampah di Kabupaten Bandung Barat yang berhasil didaur ulang. Sisanya masih menumpuk di TPA Sarimukti, yang kapasitasnya semakin terbatas. Karena itu, strategi pengurangan sampah dari sumber dianggap lebih efektif dibanding sekadar menambah armada pengangkut.
Melalui gerakan bank sampah, sedekah sampah, serta edukasi 3R, pemerintah berharap masyarakat bisa lebih mandiri dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memperoleh nilai ekonomi dari hasil pengelolaan sampah.
Sosialisasi yang digelar di wilayah selatan ini menjadi langkah awal dalam membangun gerakan perubahan perilaku dan kesadaran kolektif. Pemerintah daerah menargetkan agar dalam beberapa tahun ke depan, seluruh desa di KBB selatan memiliki bank sampah aktif yang terhubung dengan sistem daur ulang dan ekonomi sirkular tingkat kabupaten.
Kita tidak hanya ingin masyarakat membersihkan lingkungannya, tapi juga mampu melihat potensi kesejahteraan dari sana. Dari sampah, kita bisa menciptakan nilai, lapangan kerja, dan lingkungan yang lebih sehat,” tutup Irfan Arfianto.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pegiat lingkungan, harapannya KBB selatan dapat menjadi contoh wilayah yang berhasil menyeimbangkan antara kebersihan, ekonomi, dan kesejahteraan warga melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Asep (ABR )
Editor bjnews media com
