Sang penyair jalanan tatar Sunda merayakan pergantian tahun depan sebuah renungan kehidupan

OLEH : KANG ACENG

Bandung – bjnews 2 janwari 2026 –Di tengah hiruk-pikuk perayaan pergantian tahun yang identik dengan gemerlap kota dan suara pesta, seorang penyair jalanan dari Tatar Sunda justru memilih langkah yang berbeda. Ia meninggalkan keramaian, menjauh dari pusat kota, dan menyepi di sudut desa. Sebuah perjalanan sunyi yang bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk berdamai dengan diri sendiri dan kehidupan.

Malam itu, tak ada kembang api atau sorak sorai. Hanya nyala lilin kecil yang berpendar pelan, secangkir kopi hitam yang mengepul, dan sebatang rokok yang menemani helaan napas panjangnya. Dalam kesunyian itu, ia menatap waktu yang berlalu, mengenang langkah-langkah hidup yang telah dilewati—tentang harapan yang tak selalu terwujud, keinginan yang kadang harus dilepaskan, dan impian yang sering kali hanya menjadi oase di tengah perjalanan panjang.
Dari perenungan tersebut, lahirlah sebuah

puisi singkat berjudul “MISTERI”, yang menjadi refleksi jujur atas realitas kehidupan manusia:
MISTERI
Harapan kadang tidak terkabul
Keinginan kadang tidak terpenuhi
Impian hanya menjadi oase
Tapi, anugerah dan kebahagiaan
kadang datang tak terduga
menghampiri kita tanpa aba-aba
Itulah misteri kehidupan
Biarlah yang lalu
jadi kenangan
Aku harus melangkah
tuk merengkuh

Puisi ini menggambarkan pandangan hidup yang sederhana namun mendalam. Bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, namun justru di balik ketidakpastian itulah sering tersembunyi anugerah dan kebahagiaan yang datang tanpa diduga. Sebuah pesan tentang keikhlasan, penerimaan, dan keberanian untuk terus melangkah ke depan.

Sebagai penyair jalanan, ia telah lama menjadikan ruang publik sebagai panggung dan puisinya sebagai suara bagi mereka yang sering luput dari sorotan. Karya-karyanya lahir dari jalanan, dari perjumpaan dengan manusia dan kisah-kisah kecil yang sarat makna. Pergantian tahun ini menjadi momen penting baginya untuk kembali ke akar: sunyi, jujur, dan apa adanya.
“Yang lalu biarlah menjadi kenangan,” demikian makna yang ingin ia sampaikan. Sebuah ajakan untuk tidak terjebak pada penyesalan, tetapi menjadikannya bekal untuk merengkuh masa depan dengan langkah yang lebih sadar dan penuh harapan.

ini sekaligus menjadi penanda bahwa sastra jalanan masih hidup—bernapas di sudut-sudut desa, di balik kesunyian malam, dan di hati mereka yang masih percaya bahwa kata-kata mampu merawat jiwa. Di tengah dunia yang semakin bising, sang penyair mengingatkan: terkadang, kita hanya perlu berhenti sejenak, menyepi, dan mendengarkan misteri kehidupan berbicara.

Editor bjnews media com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dapatkan info menarik seputar Kabupaten Bandung Barat

X