Pelatihan Kader PMT Berbasis Pangan Lokal Perkuat Upaya Pencegahan Stunting
Bandung Barat, 3 Juni 2026 – Upaya peningkatan status gizi masyarakat melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal terus diperkuat. Bertempat di Aula Desa Tani Mulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (3/6/2026), digelar kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Kader PMT Berbasis Pangan Lokal yang diikuti kader PMT Posyandu se-Kecamatan Ngamprah dari wilayah kerja Puskesmas Cimareme dan Puskesmas Ngamprah.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mendukung program pemerintah untuk percepatan penurunan stunting, pencegahan kekurangan gizi pada balita, serta peningkatan kesehatan ibu hamil melalui pemanfaatan pangan lokal yang berkelanjutan.
Acara dibuka oleh Kepala Puskesmas Cimareme, dr. Adrianto, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran kader Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.
Menurut dr. Adrianto, PMT berbasis pangan lokal yang saat ini didistribusikan ditujukan kepada balita dengan berat badan tidak naik, ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK), maupun ibu hamil yang berisiko mengalami KEK.
"Tujuan utama pemberian PMT berbasis pangan lokal adalah membantu memenuhi kebutuhan gizi sasaran sehingga tercipta asupan gizi yang seimbang. Dengan pemanfaatan bahan pangan lokal, diharapkan kebutuhan nutrisi masyarakat dapat terpenuhi sekaligus mendukung ketahanan pangan di wilayah," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Adrianto menjelaskan bahwa terdapat beberapa prinsip gizi seimbang yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan kepada sasaran. Di antaranya adalah makanan yang beragam dan mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral; kecukupan energi sesuai kebutuhan; porsi yang disesuaikan dengan usia dan kondisi sasaran; serta keamanan pangan yang mencakup kebersihan, pengolahan yang benar, dan penyimpanan yang higienis.
Ia juga menegaskan bahwa PMT lokal bukanlah pengganti makanan utama, melainkan sebagai makanan tambahan atau kudapan bergizi yang bertujuan melengkapi kebutuhan nutrisi penerima manfaat.
"PMT lokal bukan porsi makan utama, tetapi makanan tambahan yang bergizi. Karena itu, peran kader sangat penting untuk memastikan sasaran benar-benar mengonsumsi PMT yang diberikan dan memperoleh manfaatnya," jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Adrianto berpesan kepada seluruh kader agar terus melakukan pemantauan selama proses pendistribusian PMT. Kader juga diharapkan aktif berkomunikasi dengan sasaran, pihak penyedia makanan (catering), serta tim gizi dari puskesmas guna memastikan program berjalan optimal.
"Kader harus menjadi penghubung yang baik antara masyarakat dengan tenaga kesehatan. Jika ditemukan kendala di lapangan, segera komunikasikan tambahnya.
Selain materi mengenai PMT berbasis pangan lokal, peserta juga mendapatkan pembekalan terkait kesehatan lingkungan melalui materi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang disampaikan oleh petugas kesehatan lingkungan dari Puskesmas Cimareme. Dalam pemaparannya dijelaskan lima pilar STBM yang menjadi landasan dalam menciptakan lingkungan sehat, yaitu stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga, serta pengamanan limbah cair rumah tangga.
Materi berikutnya disampaikan oleh Lastri, petugas kesehatan lingkungan dari Puskesmas Ngamprah, yang mengupas pentingnya penerapan prinsip higienitas dan sanitasi pangan dalam pengolahan makanan. Peserta diberikan pemahaman mengenai cara menjaga keamanan pangan mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, hingga penyajian makanan kepada sasaran.
Tidak ketinggalan, Umi Sumsum turut memberikan materi singkat mengenai PHS Dalam paparannya, ia mengingatkan pentingnya membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga sebagai fondasi utama dalam mencegah berbagai masalah kesehatan dan gizi.
Sementara itu, Camat Ngamprah dalam arahannya menekankan pentingnya pemahaman kader terhadap PMT berbasis pangan lokal yang diberikan kepada ibu hamil dan balita. Ia meminta seluruh kader untuk terus melakukan pendampingan, pemantauan, monitoring, dan evaluasi terhadap pelaksanaan program di lapangan.
"Kader harus benar-benar mengenali jenis PMT yang diberikan kepada sasaran serta memastikan makanan tersebut dikonsumsi dengan baik. Monitoring dan evaluasi perlu dilakukan secara berkelanjutan agar setiap kendala yang muncul dapat segera diatasi," tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan program PMT tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan yang diberikan, tetapi juga oleh keterlibatan aktif kader dalam melakukan edukasi, pendampingan, dan pengawasan kepada masyarakat penerima manfaat.
Kegiatan pelatihan ini mendapat sambutan positif dari para peserta. Selain meningkatkan pemahaman mengenai gizi dan pangan lokal, pelatihan juga memperkuat kapasitas kader dalam menjalankan tugasnya sebagai mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.kegiatan di akhir dengan praktek bikin PMT lokal di pandu oleh Bu Dewi gizi PKM Cimareme,
Melalui pelatihan ini diharapkan kader Posyandu se-Kecamatan Ngamprah semakin siap mendukung program perbaikan gizi masyarakat, menekan angka stunting, serta mewujudkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas di Kabupaten Bandung Barat.
Peliput: Dewi Nurjanah














