Hari Anak Palestina || Pembunuhan, Kelaparan dan Wabah Penyakit Melanda Anak-Anak Gaza, Dunia Hanya Diam Membisu
Oleh Aceng Syamsul Hadie (ASH)
Peringatan Hari Anak Palestina setiap 5 April seharusnya menjadi momentum perlindungan dan harapan. Namun di Gaza, hari itu justru menjadi cermin tragedi kemanusiaan paling kelam. Anak-anak tidak dirayakan—mereka dibunuh, dilukai, dilaparkan, dan dilupakan.
Selama dua tahun terakhir, lebih dari 21 ribu anak dilaporkan syahid. Dari jumlah itu, sekitar 19 ribu adalah pelajar—generasi yang seharusnya berada di ruang kelas, bukan di bawah reruntuhan. Lebih dari 44 ribu anak lainnya mengalami luka-luka, banyak di antaranya cacat permanen akibat amputasi, di tengah sistem kesehatan yang telah runtuh.
Data resmi menunjukkan sekitar 30 persen korban jiwa adalah anak-anak. Angka ini bukan sekadar statistik—ini adalah potret nyata kehancuran satu generasi. Ratusan bayi dan ribuan balita termasuk di dalamnya, menandakan bahwa bahkan kehidupan yang baru dimulai pun tidak luput dari kekerasan brutal.
Namun kematian di Gaza tidak hanya datang dari bom dan peluru. Setidaknya 157 anak meninggal akibat kelaparan, sementara puluhan lainnya tewas karena cuaca dingin di pengungsian. Blokade berkepanjangan dan terbatasnya akses bantuan kemanusiaan telah mengubah kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan tempat tinggal menjadi barang langka.
Di sisi lain, lebih dari 58 ribu anak kehilangan orang tua mereka. Mereka kini hidup dalam trauma mendalam, tanpa perlindungan, tanpa kepastian masa depan. Ini bukan hanya krisis fisik—ini adalah kehancuran psikologis massal yang dampaknya akan berlangsung lintas generasi.
Sektor pendidikan pun lumpuh. Ratusan sekolah hancur, dan sekitar 700 ribu anak kehilangan akses terhadap pendidikan. Gaza tidak hanya kehilangan nyawa—ia kehilangan masa depan.
Kondisi serupa juga terjadi di Tepi Barat. Ratusan anak menjadi korban jiwa, ribuan ditahan, dan puluhan ribu lainnya hidup dalam ketakutan dan pengungsian. Ini menunjukkan bahwa penderitaan anak-anak Palestina bukan insiden terisolasi, melainkan pola sistematis yang terus berlangsung.
Pemerintah Palestina menyebut situasi ini sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di era modern. Pernyataan itu bukan berlebihan. Ketika anak-anak menjadi target paling rentan dan paling banyak dikorbankan, maka dunia sedang menyaksikan kegagalan moral kolektif.
Pertanyaannya kini sederhana namun mengguncang: sampai kapan dunia akan diam?
Jika komunitas internasional masih mengklaim menjunjung tinggi hak asasi manusia, maka tragedi ini tidak boleh terus dibiarkan. Perlindungan terhadap anak-anak bukan pilihan politik—ia adalah kewajiban kemanusiaan.
Hari Anak Palestina seharusnya menjadi panggilan global—bukan sekadar peringatan, tetapi titik balik. Karena setiap detik keterlambatan berarti satu lagi nyawa anak yang hilang, satu lagi masa depan yang dihancurkan.[]**
**) Penulis,
Aceng Syamsul Hadie, S.Sos., MM.
Ketua Dewan Pembina DPP ASWIN (Asosiasi Wartawan Internasional)









