Inspirasi Kisah “Lutung Kasarung” untuk KP RRI Bandung yang Dipentaskan di Auditorium RRI Bandung
Pentas Legenda Pasundan Sarat Nilai Kehidupan dan Keteladanan
Bandung 16 Mei 2026 — Suasana penuh makna dan kekayaan budaya terasa begitu kental dalam pementasan legenda Sunda “Lutung Kasarung” yang digelar di Auditorium Radio Republik Indonesia Bandung tadi siang. Pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan seni tradisional, melainkan menjadi media refleksi kehidupan yang sarat pesan moral, nilai kepemimpinan, integritas, kesabaran, hingga pentingnya memaafkan sesama.
Kisah legendaris dari Tanah Pasundan ini mengangkat perjalanan hidup Putri Purbasari, putri bungsu Raja Prabu Tapa Agung dari Kerajaan Pasir Batang, yang harus menghadapi iri hati dan tipu daya kakaknya sendiri, Purbararang.
Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa Prabu Tapa Agung memiliki dua orang putri, yakni Putri Purbasari dan Putri Purbararang. Ketika sang Raja hendak menentukan penerus tahta kerajaan, pilihan jatuh kepada Putri Purbasari. Keputusan itu diambil bukan tanpa alasan. Purbasari dikenal sebagai sosok yang jujur, cerdas, bijaksana, serta memiliki integritas tinggi.
Namun keputusan tersebut menimbulkan kecemburuan mendalam dari Purbararang. Tidak menerima kenyataan, Purbararang kemudian mencari cara licik untuk merebut tahta kerajaan. Dengan bantuan seorang dukun, ia meracuni Purbasari hingga tubuh sang adik dipenuhi penyakit kulit, bernanah, dan berbau busuk.
Melihat kondisi tersebut, Prabu Tapa Agung akhirnya memutuskan untuk mengasingkan Purbasari ke hutan belantara. Di tengah penderitaan dan kesedihannya, Purbasari justru bertemu dengan sosok misterius seekor lutung hitam bernama Lutung Kasarung.
Meski berwujud seekor kera hitam yang tampak buruk rupa, Lutung Kasarung hadir sebagai sahabat setia yang menemani, membantu, dan melindungi Purbasari dengan penuh ketulusan. Melalui semedi dan petunjuk para dewa, Lutung Kasarung menemukan telaga suci yang akhirnya mampu menyembuhkan penyakit Purbasari hingga kembali cantik seperti sediakala.
Kabar kesembuhan Purbasari pun sampai ke telinga sang Raja. Prabu Tapa Agung kemudian mengutus patih kerajaan untuk menjemput Purbasari kembali ke istana dan menetapkannya kembali sebagai calon penerus kerajaan.
Keputusan itu kembali membuat Purbararang murka. Ia pun mengajukan tantangan untuk membandingkan siapa pendamping yang paling tampan dan pantas mendampingi calon ratu kerajaan.
Purbararang datang bersama kekasihnya yang tampan dan gagah, sementara Purbasari tetap setia menggandeng Lutung Kasarung yang dianggap buruk rupa. Purbararang tanpa henti menghina dan merendahkan adiknya beserta pasangannya.
Namun dengan keteguhan hati, kesetiaan, serta keyakinan Purbasari terhadap kebaikan hati Lutung Kasarung, keajaiban pun terjadi. Lutung Kasarung berubah wujud menjadi seorang pangeran tampan nan gagah bernama Pangeran Guruminda, yang ternyata merupakan titisan dewa.
Akhir cerita, Prabu Tapa Agung tetap memilih Purbasari sebagai penerus kerajaan Pasir Batang. Purbararang pun akhirnya menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada sang adik. Dengan tulus dan tanpa dendam, Purbasari memaafkan kakaknya.
Pementasan tersebut mendapat apresiasi hangat dari para penonton yang hadir di Auditorium RRI Bandung. Selain menghibur, kisah “Lutung Kasarung” dinilai mampu mengingatkan kembali pentingnya menjaga nilai-nilai luhur budaya Sunda sekaligus menanamkan karakter positif dalam kehidupan sehari-hari.
Hikmah dan Nilai Kehidupan dari Kisah “Lutung Kasarung”
Pementasan ini juga menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi keluarga besar KP RRI Bandung, di antaranya:
Menjunjung kejujuran, prinsip, dan integritas dalam menjalankan amanah dan kehidupan sehari-hari.
Sabar dan pantang menyerah dalam menghadapi cobaan hidup.
Selalu berbuat baik kepada sesama tanpa memandang rupa maupun kedudukan.
Memiliki hati pemaaf dan tidak memelihara dendam.
Melalui kisah klasik penuh makna ini, para penonton diajak memahami bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang kekuasaan dan penampilan, melainkan tentang ketulusan hati, kesabaran, serta kebaikan yang akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.
Pementasan “Lutung Kasarung” di Auditorium RRI Bandung menjadi bukti bahwa warisan budaya Nusantara tetap relevan untuk menjadi cermin kehidupan di masa kini.
Kami yang menyimak:
Om Rohman
Bang Bey Permana
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Peliput: Bunda Devi












