KABUPATEN BANDUNG BARAT – Upaya penanganan limbah peternakan di Kabupaten Bandung Barat memasuki babak baru. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, DLH Kabupaten Bandung Barat, Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, serta Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI) memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan sistem pengelolaan limbah peternakan yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui peninjauan lapangan dan diskusi bersama para pemangku kepentingan guna memastikan penanganan limbah kotoran ternak dapat dilakukan secara lebih optimal, terpadu, dan ramah lingkungan.
Pejabat pengawas lingkungan hidup (PPLH) DLH Kabupaten Bandung Barat, Ahmad Sodikin, mengatakan bahwa pemerintah akan terus memberikan pembinaan dan pendampingan kepada para peternak sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, berbagai bantuan telah disalurkan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dukungan sarana biogas yang bertujuan mengurangi dampak limbah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat peternak.
“Pembinaan akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi berkomitmen mendukung pengelolaan limbah peternakan agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan dapat dimanfaatkan secara produktif,” ujarnya.
Sementara itu, Agus Mulyana dari Bidang Kelembagaan KPSBU Lembang menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung seluruh program pengelolaan limbah peternakan. Selama dua tahun terakhir, KPSBU telah memfasilitasi pengelolaan limbah melalui kelompok-kelompok masyarakat dengan menyediakan sarana penampungan dan transportasi pengangkutan menuju lokasi pengolahan.
Limbah yang terkumpul kemudian diolah menjadi pupuk organik padat maupun kascing yang memiliki nilai ekonomi dan berpotensi menambah pendapatan peternak. Namun demikian, penguatan akses pasar masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Sebagai langkah strategis jangka panjang, saat ini tengah disiapkan kerja sama antara Pemerintah Desa Cibogo dan sejumlah pihak terkait untuk pembangunan fasilitas pengolahan limbah peternakan berskala lebih besar. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan mampu mengakomodasi pengelolaan limbah secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
KPSBU juga terus mendorong para peternak agar mampu mengelola limbah secara mandiri melalui penyediaan tempat penampungan dan pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna. Edukasi dan pendampingan akan terus dilakukan guna mencegah penumpukan limbah yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat dan kualitas lingkungan.
Di sisi lain, Deputi Director HR Yayasan Bentang Alam Indonesia (YBAI), Restu Nugraha, menekankan bahwa menjaga kebersihan lingkungan harus menjadi budaya dan prioritas bersama. Menurutnya, pengelolaan limbah yang optimal membutuhkan kolaborasi aktif antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai lembaga pendamping.
“Menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban, tetapi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, diperlukan penguatan regulasi, edukasi, dan kolaborasi agar pengelolaan limbah dapat berjalan lebih efektif serta menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat,” kata Restu.
Kolaborasi antara pemerintah, KPSBU Lembang, dan YBAI menjadi langkah nyata dalam mewujudkan pengelolaan limbah peternakan yang berkelanjutan. Selain menjaga kelestarian lingkungan, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan peternak melalui pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Peliput Budi
Editor Emi Dewi



















